Meminjam cara Tere Liye bertutur, nasihat lama itu benar adanya, bahwa semua amalan tergantung niatnya.

Aku belajar ini dari seorang youtuber yang kini juga menjelma penulis, Gita Savitri Devi, yang lebih akrab disapa Mbak Gitasav. Telah khatam kubaca cerita perjalanannya yang diabaikan dalam buku berjudul Rentang Kisah.

Sudah dari lama nama perempuan itu kudengar sejak SMA. Seorang teman memperkenalkan, “Itu Mbaknya suka nge-cover lagu sama pacarnya”. Paul, nama si mas pacar ini. Seorang pria yang kala itu berkeyakinan Nasrani, berbeda dengan Mbak Gita yang beragama Islam. Tulisan ini tidak dalam rangka membenturkan dua kepercayaan itu. Aku lebih ingin menyorot pembelajaran apa yang kudapat dari perjalanan dua anak adam ini.

Siapapun tahu, menjalin hubungan dengan kepercayaan yang berbeda tentu bukan hal mudah. Sulit banget malah. Bahkan ada yang bilang, ending-nya sudah pasti akan pisah. Istilahnya, dasar hidupnya aja udah beda, gimana nanti menjalani hidup bersama, hiyahiyaaa. Ini menjadi kegelisahan Mbak Gita juga.

Maka terlintas di benak Mbak Gita supaya bisa mengobrolkan soal agama secara baik-baik dengan Mas Paul. Lebih-lebih kalau nanti Mas Paul tertarik masuk Islam. Kalau bisa sevisi dalam agama, maka langkah ke depan tentu akan lebih mudah.

Tetapi, sayangnya Mas Paul ini nggak nyaman ketika harus menyinggung ke arah sana. Ia, oleh Mbak Gita, dibilang cukup alim dalam agamanya. Tentu saja ini super duper menggalaukan bagi Mbak Gita. Selama setahun ia masih belum juga menemukan titik terang.

Bersamaan dengan itu, Mbak Gita juga merasa selama ini ia sebenarnya tidak memahami banyak hal soal agamanya sendiri. Hingga pada suatu hari, tanpa sengaja Mbak Gita dipertemukan dengan sebuah buku. Buku lama miliknya, biografi tentang Rasulullah saw yang ditulis oleh Martin Lings.

Seperti sudah jodoh, ada sebuah ayat yang kemudian menyambutnya di sana.

“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk orang yang engkau cintai, melainkan Allah lah yang memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS Al-Qasas : 56)

Merasa ditampar, Mbak Gita menyesal, “Seharusnya gue nggak maksain Paulus supaya pindah agama.”

Ada rasa bersalah yang kemudian timbul. Usaha memaksa-maksa itu berangkat dari rasa egois untuk bisa hidup bersama. Sedangkan Allah swt sendiri yang menyampaikan bahwa manusia tidaklah punya daya untuk itu, tetapi Allah.

Lalu diingatkan, Mbak Gita beringsut beringsut membenahi niatnya. Ia menggugurkan rasa egoisnya. Ia tidak lagi berharap yang bukan-bukan soal berpindahnya Mas Paul untuk menjadi muslim. Ia ingin mengenalkan Mas Paul dengan Islam semata-mata karena Allah. Bukan karena keinginan pribadinya. Bagaimana nanti Mas Paul pada akhirnya, itu tidak akan jadi soal. Karena niat Mbak Gita sudah melampaui niat sebelumnya.

Setelah itu, hatinya menjadi plong sekali. Jalan yang kemarin ditempuh berat rasanya menjadi begitu ringan, padahal bedanya hanya pada niat, pada keikhlasan.

Momen itu tidak buru-buru datangnya, tapi hadir juga. Perlahan Mas Paul terbuka berdiskusi soal agama dan menemukan satu titik yang betul-betul mendekatkannya dengan islam. Jalan ke depan menjadi begitu terang. Aku sebagai pembaca sampai menitikkan air mata. Padahal kalau boleh jujur, cara menulis Mbak Gita bukanlah gaya tulis puitis atau menye-menye. Tapi cerita yang deep ini berhasil dibawakan juga secara ajaib.

Cerita ini begitu berkesan. Sekali lagi, aku belajar kekuatan sebuah niat. Meskipun yang dilakukan sama-sama hal baik, ketika niatnya berbeda itu akan berpengaruh sekali dalam prosesnya. Aku tidak bicara hasil, karena hasil itu uncontrollable.

Mbak Gita lebih ringan berjalan ke depan ketika niatnya sudah membumbung tinggi melampaui keegoisan pribadi. Ketika kita mengharapkan sesuatu yang kemudian gagal, kita juga tidak terlalu sakit hati karena kita tahu telah mengusahakan yang terbaik dan inilah hasil terbaiknya.

Niat kita adalah menjemput panggilan-Nya untuk berbuat baik sebanyak mungkin. Rahmatan lil alam in. Semangat untuk terus bisa berdaya upaya dengan niat yang penuh mengharap ridho-Nya!