Laporan Laba dan Rugi, Apa Saja Komponennya?

By | May 29, 2021

Halo, Sobat Bisnis. Pada ulasan sebelumnya, kita sudah membahas pentingnya membuat laporan laba dan rugi. Kali ini, kita akan melanjutkannya, membedah komponen apa saja yang mesti ada di dalam laporan laba dan rugi. Penasaran kan ada apa saja? Yuk, simak ulasan sinaubisnis.com berikut ini!

Komponen Laba dan Rugi

Secara sederhana, laporan laba dan rugi merincikan penjualan dan pengeluaran yang kemudian dijadikan sebagai dasar menghitung  laba bersih. Tentunya, ada beragam komponen yang bisa dimasukkan di dalamnya. Tapi, dari sekian banyak komponen tersebut, setidaknya ada 11 elemen yang mesti ada dalam laporan laba dan rugi. Diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Pendapatan

Menurut akuntansi, pendapatan diartikan sebagai jumlah pemasukan yang dihitung berdasarkan selisih nilai wajar imbalan yang diperoleh dari rabat volume dan diskon dagang. Yang mana dalam teknisnya, kemudian pendapatan dipilah menjadi dua, yakni pendapatan operasional dan non-operasional.

Pertama, pendapatan operasional didefinisikan sebagai pendapatan yang diperoleh langsung dari kegiatan operasional perusahaan. Contohnya, hasil dari memproduksi produk atau menjajakan produk ke distributor atau konsumen. Kedua, pendapatan non-operasional didefinisikan sebagai pendapatan yang diperoleh secara otomatis diluar dari kegiatan jual-beli perusahaan. Misalnya, sewa properti bisnis, bunga dari modal bisnis yang disimpan di bank, atau kemitraan strategis, dan yang lainnya. 

2. Harga Pokok Penjualan 

Harga Pokok Penjualan (HPP) adalah jumlah biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi suatu produk atau jasa. Dimana HPP ini digunakan sebagai tolak ukur untuk menyusun harga jual produk supaya perusahaan memperoleh keuntungan. Untuk itu, ada beberapa unsur yang mempengaruhi HPP tersebut, diantaranya:

  • Persediaan awal barang dagangan
  • Pembelian barang dagangan
  • Beban angkut
  • Potongan pembelian
  • Pengurangan harga dan retur pembelian
  • Persediaan akhir barang dagangan

3. Beban Usaha 

Beban usaha memilah kegiatan usaha utama berdasarkan fungsinya, gambar oleh Mathieu Stern on Unsplash

Beban usaha yang dimaksud adalah biaya dari kegiatan usaha utama perusahaan berdasarkan fungsinya, contohnya beban perlengkapan kantor, biaya iklan, dan lainnya.

4. Biaya Keuangan

Biaya keuangan ini diartikan sebagai biaya bunga dan biaya lain dari peminjaman dana yang ditanggung oleh perusahaan serta biaya dari transaksi instrumen keuangan. Contohnya adalah amortisasi biaya perolehan pinjaman, amortisasi diskonto/premi kontrak berjangka, dan yang lainnya.

5. Bagian Hasil dari Ventura Bersama dan/atau Entitas asosiasi

Bagian ini merupakan bagian dari laba/rugi perusahaan atas partisipasi dan/atau entitas asosiasi yang dihitung melalui metode ekuitas terhadap periode berjalan. Yakni, investasi yang mulanya dicatat senilai biaya perolehan, kemudian ditambah atau dikurangi dengan bagian laba/rugi investor pada entitas asosiasi setelah tanggal perolehan.

6. Beban Pajak

Beban terhadap pajak yang dimaksud adalah beban pajak penghasilan (PPh), yang merupakan jumlah dari pajak kini (current tax) dan pajak tangguhan (deferred tax). Pajak kini adalah jumlah pajak penghasilan yang dipulihkan (terutang) atas rugi pajak (laba kena pajak) untuk suatu periode tertentu berdasarkan SPT tahunan PPh. Sedangkan, pajak tangguhan adalah beban pajak yang harus dibayar oleh wajib pajak pada masa yang akan datang karena berpengaruh pada pengurangan atau penambahan beban pajak. 

7. Operasi yang Dihentikan

Operasi yang dihentikan membantu perusahaan untuk menghasilkan uang ke depannya, gambar oleh Steve Buissinne from Pixabay

Operasi yang dihentikan dalam akuntansi keuangan ialah bagian dari lini produk perusahaan atau bisnis inti yang mengalami divestasi atau telah ditutup serta dilaporkan secara terpisah dari operasi yang dilanjutkan pada laporan laba dan rugi. Pentingnya operasi yang dihentikan dilaporkan secara terpisah dalam laporan laba dan rugi supaya laba dan arus kas dari operasi yang dilanjutkan dalam aktivitas yang telah dihentikan dapat terbedakan dengan jelas.

Selain itu, perlunya operasi yang dihentikan dicantumkan adalah memberikan gambaran yang lebih jelas bagi perusahaan agar bagaimana menghasilkan uang ke depannya, seperti mengurangi aset yang mana yang harus didivestasikan atau dilipat.

8. Laba/Rugi Periode Berjalan

Laba/rugi periode berjalan adalah total pendapatan yang telah dipotong beban serta tidak termasuk dalam komponen pendapatan komprehensif lain. Dari laba/rugi periode berjalan ini akan memudahkan kita untuk mengetahui laba/rugi yang diperoleh oleh perusahaan sebelum satu periode tutup buku rampung.

9. Pendapatan Komprehensif Lain

Pendapatan komprehensif lain menunjukkan perolehan laba atau kerugian perusahaan setelah dipotong pajak penghasilan, termasuk penyesuaian reklasifikasi, yang mana tidak dikonfirmasi dalam laba rugi yang diakui Standar Akuntansi. Oleh karenanya, sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang berlaku di Indonesia, maka terdapat beberapa elemen laporan laba/rugi komprehensif yang dipersyaratkan, yaitu meliputi:

  • Keuntungan dan kerugian aktuarial terhadap program manfaat pasti yang diakui.
  • Perubahan surplus revaluasi aset, baik itu aset tak berwujud maupun aset tetap. 
  • Laba dan rugi akibat laporan keuangan yang dijabarkan.
  • Laba dan rugi dari pengukuran kembali aset keuangan yang tersedia untuk dijual.
  • Bagian afektif dari laba dan rugi yang diakibatkan instrumen lindung nilai untuk melindungi nilai arus kas.
  • Bagian pendapatan komprehensif lain yag diperoleh dari ventura bersama dan/atau entitas asosiasi. Pada pos ini, pendapatan komprehensif lain dari ventura bersama dan/atau entitas asosiasi dicatat oleh perusahaan berdasarkan persentase kepemilikan, menggunakan metode ekuitas terhadap periode berjalan yang diakui.

Di samping itu, laporan pendapatan komprehensif lain serta laba rugi komprehensif dilaporkan dengan jumlah yang dihitung sebelum pajak terkait. Namun, untuk pendapatan komprehensif lain dari ventura bersama dan/atau entitas asosiasi justru dilaporkan setelah dihitung dengan pajak terkait.

10. Pajak Penghasilan Terkait 

Pada pos ini, pajak penghasilan terkait dihitung secara akumulatif dengan komponen pendapatan komprehensif lain. Terkecuali, untuk pendapatan komprehensif lain dari ventura bersama dan/atau entitas asosiasi tidak termasuk di dalamnya.

11. Laba/Rugi per saham dasar dan dilusian

Laba per saham dasar dan dilusian dalam pelaporannya sama, gambar dari pixabay.com

Bagi perusahaan, laba/rugi per saham dasar dan dilusian juga perlu disajikan untuk seluruh periode, yang detilnya adalah sebagai berikut:

  • Laba/rugi per saham dasar: Pada pos ini menunjukkan jumlah laba/rugi per saham yang diperoleh dari operasi lanjutan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk selama kurun waktu periode pelaporan.
  • Laba/rugi per saham dilusian: Pada pos ini menunjukkan jumlah laba/rugi per saham dilusian dari operasi lanjutan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk selama kurun waktu periode pelaporan. Dimana dalam penghitungannya menyertakan semua efek berpotensi saham biasa, baik yang sifatnya dilutif maupun yang beredar sepanjang periode pelaporan.
  • Untuk pelaporannya, laba per saham dasar dan dilusian sama, yakni keduanya berada di dalam satu baris laporan laba/rugi komprehensif.

Perlu menjadi catatan untuk operasi yang dihentikan, perusahaan harus melaporkan laba/rugi per saham dasar dan dilusian dari penghitungan kumulatif laba/rugi per saham operasi lanjutan dan operasi yang dihentikan.

**********

Nah, tidak terasa bahasan tentang ‘komponen laba dan rugi’ akhirnya rampung juga. Tapi, tunggu dulu, ternyata masih ada lagi ulasan sinaubisnis.com berikutnya yang masih terkait dengan hal ini.

Yap, semoga untuk tulisan kali ini bermanfaat ya. Harapannya, Sobat Tani bisa memahami 12 komponen yang mesti ada di dalam laporan laba dan rugi perusahaan. Jadi, nantikan tulisan sinaubisnis.com selanjutnya ya. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *