Beranda » Titik Impas atau Break Even Point, Apa itu?

Titik Impas atau Break Even Point, Apa itu?

  • oleh

Halo, Sobat Bisnis. Mestinya tidak asing lagi dengan “break even point (BEP)” ya? Pasalnya, pada pembahasan ilmu ekonomi, istilah itu akan mudah ditemukan. Khususnya pada suatu perusahaan, BEP wajib sekali digunakan untuk menganalisis kegiatan produksinya. Mengapa? Karena BEP mampu mengukur titik impas perusahaan. Nah, biar tidak makin penasaran mengenai apa itu BEP ini. Mari kita simak ulasannya berikut ini!

Pengertian BEP / Break Even Point

BEP (Break Even Point)atau titik impas dalam ekonomi, khususnya biaya akuntansi, diartikan sebagai titik pertemuan antara biaya atau pengeluaran dan pendapatan. Dimana titik tersebut menunjukkan bahwa antara keduanya berada dalam kondisi seimbang, sehingga tidak ada kerugian maupun keuntungan. Itulah mengapa BEP menjadi ukuran penting dalam bisnis. Sebab, karenanya pengusaha mampu menghitung profit atau laba yang akan diperoleh.

Sayangnya, BEP seringkali malah dipahami keliru oleh pengusaha. Lantaran bias membedakan BEP dengan perputaran atau balik modal. Padahal titik impas dan balik modal sendiri adalah dua hal yang sangat berbeda.

Sebagai contoh, saat kita membuka sebuah usaha, pertama-tama yang mesti kita hitung adalah modal sewa tempat, membeli perlengkapan, dan kebutuhan lainnya. Barulah setelah usaha berjalan dengan baik, maka kita akan memperoleh balik modal. Yakni, profit yang diperoleh dari hasil usaha/bisnis, dimana seluruh modal yang sudah dikeluarkan akhirnya bisa kembali. Nah, dalam keuangan, istilah ini disebut dengan ROI (Return on Investment).

Lain halnya dengan itu, BEP justru diartikan sebagai suatu teknik analisis yang mempelajari hubungan antara biaya tetap, biaya variabel, keuntungan, dan volume kegiatan. Oleh karenanya, BEP sendiri fokus pada hubungan antara biaya serta keuntungan maupun volume kegiatan. Maka dari itu, BEP bisa disebut juga “Cost Profit Volume Analysis (CPV Analysis)”.

Uniknya, masalah BEP akan muncul ketika perusahaan memiliki dua beban biaya, yaitu biaya variabel dan biaya tetap. Sementara, apabila perusahaan hanya mempunyai biaya variabel saja, maka masalah BEP tidak akan muncul.

Sebab, biaya tetap dan biaya variabel pada suatu perusahaan dengan volume produksi tertentu dapat mengakibatkan kerugian, ketika penghasilan dari penjualannya hanya cukup untuk menutup biaya variabel dan sebagian biaya tetapnya saja. Artinya, biaya tetapnya tidak mampu ditutupi dari hasil ketersediaan penjualan.

BEP untuk menghitung profit yang akan diperoleh perusahaan, gambar dari legalraasta.com

Karena itulah, kembali pada penjelasan sebelumnya bahwa urgensi BEP untuk menghitung profit atau laba yang akan diperoleh. Sehingga, antara BEP dan perencanaan laba terjalin berkelindan.

Dimana setelah menghitung BEP maka dapat dilakukan perencanaan laba (profit planning) yang digambarkan oleh Supriyono (2002) dalam bukunya “Perencanaan Laba” secara kuantitatif dalam keuangan dan ukuran kuantitatif lainnya. Termasuk di dalamnya juga ditentukan tujuan profit atau laba yang ingin dicapai perusahaan.

Maka dari itu, perencanaan laba dapat disimpulkan sebagai rencana kerja yang telah diperhitungkan dengan cermat dan digambarkan secara kuantitatif dalam bentuk tindakan yang harus diambil untuk mewujudkan laba tersebut.

Di samping itu, sebetulnya ada dua komponen lagi yang membentuk sebuah nilai BEP, yaitu harga jual dan pendapatan. Harga jual adalah harga seluruh biaya yang diperlukan untuk memproduksi sebuah barang ditambah dengan margin yang ingin diperoleh atau nilai keuntungan. Adapun biasanya harga jual akan dihitung per unit setelah diproduksi.

Sementara itu, pendapatan adalah penghasilan yang diperoleh dari semua penjualan produk. Jumlah pendapatan itu pun diperoleh dari harga jual dikalikan dengan jumlah produk yang laku terjual di pasar. Selain itu, nilai dari pendapatan yang dibutuhkan akan digunakan untuk memproyeksikan pendapatan periode berikutnya dengan jumlah unit dan/atau nilai margin dan harga yang berbeda.

Implementasi BEP

Tatkala menjalankan bisnis, biaya operasional adalah hal wajib yang mesti kita keluarkan, yang terdiri dari biaya tetap dan biaya tidak tetap (variabel). Dimana biaya tetap adalah biaya yang dihitung berdasarkan dari penjualan usaha, seperti menyewa tempat untuk usaha dengan biaya sewa sebanyak Rp 500.000/bulan. Maka, walaupun produk yang kita tawarkan tak kunjung laku, namun kita tetap harus membayar biaya sewa tempat tersebut.

Sementara, ketika terjadi proses penjualan maka biasanya akan timbul biaya lain, seperti biaya transportasi untuk mengantar pesanan sampai ke tangan pelanggan, atau biaya penggantian pesanan karena barang yang dikirimkan tidak sesuai dengan pesanan konsumen. Biaya demikianlah yang kemudian disebut sebagai biaya tidak tetap (variabel).

Itulah karenanya, semakin banyak produk yang terjual, maka biaya variabel turut ikut meningkat. Maka dari itu, dalam proses bisnis ini, biaya tetap ditambah dengan biaya variabel kemudian menjadi biaya operasional.

Untuk itu, demi memperoleh hasil analisa BEP yang memadai, maka harus memenuhi asumsi-asumsi berikut, diantaranya:

  • Perilaku penerimaan dan pengeluaran musti digambarkan dengan akurat serta bersifat sepanjang rentang yang relevan
  • Biaya bisa dipisahkan antara biaya variabel dan biaya tetap
  • Produktivitas dan efisiensi tidak berubah
  • Harga jual tetap
  • Biaya-biaya tetap
  • Tidak ada perbedaan yang mencolok antara persediaan awal dan persediaan akhir

Manfaat mengetahui Break Even Point / BEP

Sebagaimana mafhum bahwa BEP urgent fungsinya, maka dalam perusahaan, manajemen harus dapat menetapkan dan bahkan memantau BEP tersebut. Sehingga, perusahaan dapat terbantukan serta mengurangi resiko kerugian yang tidak diharapkan perusahaan. Untuk itu, ada beberapa manfaat dari BEP bagi perusahaan. Dan, berikut empat manfaat diantaranya:

#1 Memitigasi kerugian dengan mengetahui jumlah penjualan minimal yang harus dipertahankan

Sebab, bagi pengusaha, mengetahui nilai BEP maka dapat mengantisipasi nilai kerugian sewaktu terjadi penurunan penjualan.

#2 Melalui BEP potensi kerugian dapat dimitigasi, maka BEP juga dapat digunakan untuk mengejar target tingkat keuntungan tertentu dengan mengetahui jumlah penjualan yang harus dicapai

Pasalnya, dengan mengetahui nilai BEP, maka akan dapat memproyeksikan laba maksimum yang dapat diperoleh.

#3 Memantau seberapa jauh penurunan penjualan. Dimana hubungan antara nilai BEP dan harga produk serta laba berada dalam hubungan yang sejajar

Sehingga, apabila salah satu nilai dari elemen tersebut meningkat, maka elemen yang lain juga akan turut mengalami peningkatan, dan begitu pula sebaliknya.

#4 Mengetahui hubungan antara efek perubahan harga jual, biaya, dan volume penjualan terhadap keuntungan

Contoh misalnya, peralihan tenaga kerja dari manusia ke mesin. Otomatisasi produksi demikian tentunya akan mengubah struktur biaya tetap dan biaya variabel. Hal tersebut lantaran biaya variabel yang semula berasal dari biaya kerja digantikan oleh biaya tetap berupa mesin.

Manfaat Lain BEP

Di samping itu, dalam penerapannya, penggunaan konsep BEP dapat diimplementasikan pada segala jenis bidang usaha, baik usaha kecil sampai berskala besar. Karena itu, manfaat BEP dalam praktiknya dapat tergambar dalam beberapa hal berikut ini:

#1 Menganalisis Biaya

Menganalisis biaya sejatinya dapat memantau semua biaya tetap, sehingga bisa ditinjau apakah biaya tersebut dapat berubah atau tidak. Sama halnya, biaya variabel juga harus diperhatikan, apakah biaya tersebut ada yang harus dihilangkan atau tidak. Sebab, hal ini dapat mempengaruhi peningkatan margin dan mengurangi BEP.

#2 Menganalisis Margin

Dengan menganalisis margin, maka dapat mendorong penjualan produk dengan margin tertinggi. Oleh karenanya, mesti diperhatikan secara detail mengenai margin produk, sehingga hal tersebut dapat membantu mengurangi BEP.

#3 Pemindahan Pekerjaan (Outsourcing)

Di saat kegiatan perusahaan dapat melibatkan biaya tetap, maka lakukanlah terobosan dengan melakukan pemindahan pekerjaan atas tenaga kerja atau outsourcing melalui penerapan biaya variabel per unit.

#4 Menetapkan Harga

Ketika mematok harga produk, cobalah kurangi atau hilangkan kupon sebagai diskon atau pengurangan harga produk. Sebab, hal itu dapat menyebabkan BEP menjadi tinggi. Sehingga, hal yang harus dilakukan untuk mencegahnya adalah dengan cara meningkatkan harga secara bertahap agar konsumen dapat menerimanya.

Cara menghitung BEP


Penjelasan saja mungkin tidak cukup untuk memahami BEP, tetapi perlu disertakan dengan contoh,  Pexels

Dengan membaca penjelasan tentang BEP, tidak lantas mudah untuk memahaminya. Untuk itu, supaya tidak bingung maka berikut contoh dari perhitungannya:

Sebuah perusahaan mempunyai data biaya dan rencana produksi untuk penjualannya dengan rincian sebagai berikut:

  • Biaya tetap dalam satu bulan adalah Rp 140.000.000,
    yang terdiri dari:

Biaya sewa pabrik sebesar Rp30.000.000

Biaya sewa gedung sebesar Rp 18.500.000

Biaya asuransi kesehatan sebesar Rp 15.000.000

Biaya gaji untuk pegawai dan pemilik sebesar Rp 75.000.000

Biaya penyusutan mobil sebesar Rp 1.500.000

  • Biaya variabel per unit adalah Rp 75.000,
    yang terdiri dari:

Biaya bahan baku Rp 25.000

Biaya tenaga kerja Rp 25.000

Biaya lain Rp 25.000

  • Harga jual untuk tiap unit adalah Rp 95.000

Untuk menghitung BEP unit, berikut ini rumusnya: BEP unit = biaya tetap : (harga per unit – biaya variabel per unit)

BEP unit = Rp 140.000.000 : (Rp 95.000 – Rp 75.000)

= Rp 140.000.000 : Rp 20.000

= Rp 7.000

Begitulah hasil perhitungan dari BEP unitnya, yakni sebesar Rp 7.000/unit.

Sementara untuk BEP rupiah, caranya memakai BEP rupiah = Biaya tetap : (kontribusi margin per unit : harga per unit)

BEP rupiah = Rp 140.000.000 : (Rp 20.000 : Rp 95.000)

= Rp 140.000.000: 0.2105

= Rp 665.083.135

Perhitungan BEP dapat dibuat untuk memperoleh titik impas dengan harga penjualan sebesar Rp 95.000, sehingga barang yang dijual harus sebanyak 7000 unit.

Oleh karenanya, dengan adanya perhitungan BEP, maka perusahaan dapat menghitung target minimal penjualan supaya bisa memperoleh keuntungan yang diinginkan.

Penutup

Demikianlah ulasan sinaubisnis.com mengenai titik impas atau break even point. Pada dasarnya, dengan mengetahui nilai ini maka akan membantu perusahaan untuk menentukan kebijakan pada periode berikutnya. Selain itu, melalui BEP ini akan mendorong Sobat Bisnis untuk lebih jeli dan inovatif di berbagai bidang supaya usahanya tetap eksis. Jadi, kapan Sobat Bisnis akan mulai menerapkan BEP?

Sumber : Jurnal.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *