Halo Sobat Bisnis, mungkin tidak asing lagi ya, dengan istilah sumber daya manusia (SDM)? Pasalnya, istilah itu lazim kita dengar, utamanya di dunia perusahaan atau organisasi. Walaupun pada banyak kesempatan istilah ini juga mudah kita temukan. Lantas, apa sih SDM itu? Pasti banyak yang bertanya-tanya ya. Nah, supaya tidak penasaran lagi, berikut ini ulasan sinaubisnis.com.

Pengertian Sumber Daya Manusia

Membahas SDM sejatinya akan ada beragam definisi menurut para ahli. Misalnya saja, Mathis dan Jackson yang mendefinisikan SDM sebagai suatu bentuk berbagai sistem formal dalam perusahaan yang berfungsi untuk mewadahi pemanfaatan minat dan bakat manusia di dalamnya agar dapat mengantarkan perusahaan meraih tujuannya secara efektif dan efisien.

Sementara dalam pandangan lain, Sonny Sumarsono mengurai SDM dalam dua pengertian: pertama, SDM diartikan sebagai suatu usaha kerja yang mempunyai manfaat untuk keberlangsungan produksi. Kedua, SDM dipahami sebagai sekelompok manusia yang tersusun dari individu yang memiliki kemampuan dalam menyediakan jasa.

Dari dua pengertian diatas meski sekilas tampak berbeda, tetapi keduanya sebetulnya terjalin berkelindan. Sehingga, kalau ditarik benang merahnya maka SDM secara sederhana ialah individu atau kelompok dalam perusahaan yang bekerja untuk mewujudkan tujuan institusi atau organisasi. Karenanya, kemudian pengertian SDM berdasarkan cakupannya terbagi menjadi dua, diantaranya:

  • Dalam pengertian mikro, SDM dipahami sebagai individu yang bekerja sekaligus anggota institusi atau perusahaan. Contohnya, tenaga kerja, pekerja, karyawan, pegawai, dan lain sebagainya.
  • Dalam pengertian makro, SDM ialah penduduk dalam suatu negara yang tergolong sebagai angkatan kerja, baik sudah bekerja maupun belum bekerja.

Untuk itu, berangkat dari pemahaman diatas maka SDM berperan vital dalam menggerakkan institusi atau organisasi. Sehingga, ia merupakan aset yang musti dilatih dan dikembangkan kemampuannya. Apalagi kalau dibandingkan dengan komponen sumber daya lainnya, semisal teknologi dan modal, tentu SDM harus mendapat prioritas wahid. Sebab, semua komponen bakal berjalan mandek kalau tidak digerakkan oleh SDM yang berkualitas.

Sumber Daya Manusia Dalam Konsep Ekonomi

Foto oleh cottonbro dari Pexels

Mafhum bahwa dalam konsep ekonomi, manusia bisa berperan banyak hal, baik sebagai produsen, konsumen, maupun pedagang. Karena itu, dalam menjalankan peran tersebut maka antar manusia satu dengan yang lainnya terangkai dalam satu sistem utuh yang tak terpisahkan. Itulah mengapa rangkaian itu disebut sumber daya manusia (SDM).

Seperti yang diutarakan sebelumnya, SDM merupakan aset berharga, yang secara rasional kalau diberdayakan akan berimbas pada kemajuan institusi atau organisasi. Karena itu, maka amat disayangkan kalau SDM alih-alih dikembangkan seoptimal mungkin malah disia-siakan. Pasalnya, pengembangan SDM secara otomatis akan beriringan dengan tercapainya kepuasan maksimal dalam mencapai tujuan institusi atau organisasi, yang biasanya tercermin dalam keuntungan (profit).

Dari sisi produsen misalnya, umumnya manusia akan mengoptimalkan produksinya melalui faktor-faktor produksi yang dimilikinya untuk saling dikombinasikan, sehingga nantinya diperoleh hasil yang mampu memberikan keuntungan maksimal.
Sedangkan lain halnya sebagai konsumen, manusia secara cermat akan mengelola alokasi pemasukannya untuk memenuhi kebutuhannya secara optimal. Sementara sebagai pedagang, manusia bakal menginvestasikan modal dari barang atau jasa yang ditawarkannya untuk memperoleh keuntungan maksimal.

Itulah gambaran yang menjelaskan kalau SDM sangatlah urgent peranannya dalam perusahaan. Bahkan lebih dari itu, mustahil jadinya kalau perusahaan akan mampu berjalan tanpa adanya SDM yang menjalankannya.

Manajemen Sumber Daya Manusia

Beranjak dari bahasan soal SDM yang mana betapa penting peranannya dalam menjalankan perusahaan atau institusi untuk meraih tujuannya. Maka, diperolehlah kesadaran bahwa hal itu tidak dapat berjalan begitu saja, melainkan harus ada manajemen yang sesuai untuk mengelolanya. Inilah dasar akan munculnya sebuah ilmu yang mengelola SDM, yakni manajemen SDM.

Konon, pertama kali terbentuknya manajemen SDM adalah disaat manusia menemukan keuntungan dari kerja keras, kerja sama, dan dengan cara lain untuk menggapai tujuan sipil dan militer, menurut Herbert J. Chriden dan Arthur W. Sherman (1966). Karenanya, mulai saat itu, manajemen SDM terus tumbuh, dan bahkan menjadi salah satu bahasan penting dalam dunia akademis sampai sekarang.

Dalam perkembangannya, manajemen SDM oleh Edwin B. Filippo (1984) didefinisikan sebagai proses perencanaan, pengorganisiran, pengarahan, dan pengendalian pengadaan, pengembangan, kompensasi, penyatuan, perawatan atau pemeliharaan, dan pemisahan atau pelepasan SDM kepada tujuan-tujuan akhir individu dalam organisasi atau masyarakat yang telah dicapai. Untuk itu, terurai kemudian komponen-komponen yang membentuk manajemen SDM, diantaranya:

1. Fungsi Manajemen

Foto oleh fauxels dari Pexels

Pada komponen ini, fungsi manajemen (management functions) terbentuk dari beberapa tahapan, yaitu:

#1 Perencanaan

Bagi para manajer, tahapan ini merupakan proses yang fundamental untuk kemudian melangkah secara efektif. Sebab, perencanaan yang matang akan membentuk rancangan program yang harus diprioritaskan untuk dimaksimalkan sekaligus menggapai tujuan yang telah ditetapkan oleh perusahaan.

Lalu, untuk mulai merangkai perencanaan tersebut, maka manajer SDM harus mampu menjawab beberapa pertanyaan berikut ini:

  • Apa yang akan dilakukan?
  • Siapa yang melakukan?
  • Kapan dan dimana dilakukan?

Tentunya, proses perencanaan ini bermanfaat untuk menuntun pimpinan perusahaan mendapat informasi lengkap terkait performa pegawai dan perusahaan serta menerima saran untuk menyusun solusi atas polemik yang tengah dihadapi perusahaan.

#2 Pengorganisasian

Selanjutnya, usai merampungkan perencanaan maka diperolehlah beberapa keputusan, yang kemudian perlu dibentuk skema pengorganisasian agar keputusan itu dapat direalisasikan. Pengorganisasian yang dimaksud ialah pembentukan organisasi yang terdiri dari unit-unit sekaligus fungsi-fungsinya sesuai kebutuhan untuk mencapai tujuan perusahaan.

Lalu, pada prosesnya dilakukan perancangan hubungan antara jabatan atau pekerjaan dan personel serta faktor fisik lainnya. Dimana dalam proses itu, struktur organisasi akan terbentuk sebagai alur koordinasi antar unit di dalamnya.

#3 Pengarahan

Setelah merencanakan dan mengorganisir, maka diperlukan pengarahan, semacam perintah, gerakan, bahkan motivasi guna menjaga ritme dinamika organisasi. Pasalnya, pengarahan ini akan memberi petunjuk sekaligus mengajak para pegawai untuk mau secara sadar mengerjakan kewajibannya sesuai ketentuan perusahaan.

Karena itu, melalui pengarahan akan memompa SDM untuk bekerja secara baik dan efektif serta nyaman tanpa paksaan. Harapannya kemudian akan terbangun kerja sama yang sehat di dalam perusahaan.

#4 Pengendalian

Setelah melalui perencanaan, pengorganisasian, dan pengarahan, maka untuk melengkapinya diperlukan pengendalian. Dimana salah satu bentuk pengendalian itu adalah pengawasan terhadap performa pegawai. Yakni, dengan melihat dan mengamati serta menilai pekerjaan pegawai, apakah sesuai dengan rencana yang diputuskan atau tidak, meliputi di dalamnya tujuan dan target. Itulah kemudian bisa segera dievaluasi jika terjadi penyimpangan.

Ditambah lagi, melalui pengendalian ini selain untuk memberlakukan aturan kegiatan secara responsif, juga memungkinkan pembaharuan aturan supaya perencanaan di awal dapat terealisasi dengan baik, dan juga tujuan organisasi atau perusahaan dapat tercapai.

2. Fungsi Operasi

Foto oleh Christina Morillo dari Pexels

Fungsi operasi (operative function) dibentuk melalui beberapa hal berikut:

#1 Pengadaan

Hal pertama yang mesti dilakukan dalam fungsi operasi, yaitu pengadaan (procurement). Sebab, pengadaan disini berkaitan dengan cara mendapatkan jenis dan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan organisasi. Karena itu, dalam pelaksanaannya dibagi dalam beberapa subjek, diantaranya perekrutan, penyeleksian, dan penugasan pegawai dalam perusahaan.

Di dalam proses perekrutan, umumnya dirancang tahapan alur seleksi untuk menyeleksi calon tenaga kerja, misalnya mengecek formulir, tes psikologi, meninjau referensi, dan melakukan wawancara.

#2 Pengembangan

Setelah akhirnya tersaring calon tenaga kerja yang dibutuhkan, maka setelah seleksi atau seiring berjalannya waktu perlu dilakukan pengembangan SDM guna meng-upgrade skill dengan pelatihan. Adapun pelatihan itu menyesuaikan kebutuhan kinerja pekerjaan tenaga kerja dan skema strategi bisnis perusahaan serta rencana induk kepemimpinan (human capital).

Karena itu, pengembangan sejatinya sangatlah penting, terlebih untuk beradaptasi dengan perubahan, baik yang disebabkan oleh kemajuan teknologi, kerumitan tugas manajerial, maupun penyesuaian jabatan. Karenanya, peningkatan kapasitas human capital mesti fokus ke beberapa hal berikut ini:

  • Pengembangan kepemimpinan (leadership development)
  • Penyesuaian tujuan strategis perusahaan dengan skenario serta rencana kerja seluruh unit bisnis dalam perusahaan
  • Meminimalisir bahkan menutup kesenjangan kompetisi antar karyawan

Sementara itu, pelatihan untuk pengembangan keahlian atau biasa disebut juga penataran secara teknis dapat dilakukan dalam beragam skema dan bentuk, namun dari segi tahapan dapat dilakukan dalam dua kondisi berikut, diantaranya:

Pertama, penataran untuk membekali pegawai sebelum mulai bekerja bagi pegawai yang sudah diterima setelah melalui proses seleksi.

Kedua, penataran untuk peningkatan kinerja bagi pegawai yang sudah bekerja dan ditugaskan mengambil penataran.

#3 Kompensasi

Kompensasi, yakni pemberian upah yang cukup dan wajar bagi tenaga kerja terhadap kontribusinya atas tujuan organisasi atau perusahaan, sejatinya merupakan proses penting dalam fungsi operasional. Biasanya, kompensasi diberikan dalam bentuk uang plus tunjangan lainnya. Sayangnya, acapkali hal ini diselepekan oleh manajer, padahal bagi pegawai kompensasi berpengaruh signifikan terhadap motivasi kerja.

#4 Integrasi atau Penyatuan

Selanjutnya, tak kalah penting bahwa selain pengembangan dan kompensasi yang memadai setelah pegawai diterima, yaitu integrasi atau kesatuan dalam perusahaan. Untuk itu, guna berjalannya proses integrasi atau penyatuan, maka setiap individu di dalam perusahaan musti merubah mindset-nya, kebiasaannya, bahkan sikapnya yang berpotensi merugikan perusahaan. Semua itu perlu dilakukan supaya terbentuk sebuah kerja sama yang baik untuk mencapai tujuan organisasi atau perusahaan.

#5 Perawatan atau Pemeliharaan

Pemeliharaan atau perawatan merupakan hal yang wajib dilakukan untuk menjaga bahkan meningkatkan kemampuan dan kondisi SDM yang telah ada. Untungnya hal itu dapat dilakukan dalam bentuk yang bervariasi, misalnya memberikan inventaris kantor semacam kendaraan bagi salesman, atau yang lainnya.

Namun mesti diperhatikan, terutama untuk pemberian inventaris kantor agar setelah diberikan sebaiknya jangan ditarik lagi atau dikurangi tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. Sebab, hal itu akan berdampak pada kinerja pegawai. Bahkan, imbasnya tidak hanya terhadap pegawai saja, melainkan juga mempengaruhi stabilitas perusahaan sehingga malah menyebabkan kerugian.

#6 Pemisahan atau Pelepasan atau Pensiun

Terakhir dari fungsi operasional adalah pemisahan atau pelepasan atau pensiun. Tentunya, hal itu lazim dilakukan. Karena memang, selain menerima pegawai maka maklum kemudian perusahaan juga melepaskannya, atau dalam istilah lain, yaitu mengembalikan pegawai ke dalam masyarakat.

Pelepasan ditujukan ke pegawai yang sudah menghabiskan waktu banyak untuk berkontribusi dalam perusahaan, dan tentu tujuan utama dilakukannya hal itu adalah untuk menjamin pensiun pegawai. Selain itu, perusahaan juga wajib untuk mengusahakan jaminan bagi pegawai yang pensiun dengan salah satu caranya yaitu memberikan dana bagi mereka yang akan pensiun. Dana itu diambil dari potongan gaji pegawai tersebut selama bekerja bagi perusahaan.

Urgensi Manajemen Sumber Daya Manusia

Foto oleh Christina Morillo dari Pexels

Berdasarkan ulasan diatas, mestinya secara tersirat dapat dipahami bahwa SDM beserta manajemennya amatlah penting untuk menunjang kinerja perusahaan sekaligus menyejahterakan setiap orang yang berperan di dalamnya. Karena itulah mengapa umumnya terdapat sebuah departemen khusus di dalam perusahaan yang menjalankan fungsi manajemen SDM.

Terlebih lagi, lingkungan bisnis yang dinamis bahkan sulit diprediksi mengharuskan setiap perusahaan supaya mampu bergerak fleksibel (organizational rigidity). Sehingga, tata kelola bisnis tidak bisa hanya didasarkan pada aturan saja, tetapi juga membutuhkan visi dan nilai sebagai petunjuk. Karenanya, kemampuan SDM sangat diandalkan terutama yang mempunyai pengetahuan, kreativitas, wawasan, dan visi yang sesuai dengan visi perusahaan.

Akhirnya, usai juga ulasan mengenai SDM. Dan, harapannya melalui tulisan ini diperoleh tambahan wawasan mengenai seluk-beluk SDM. Semoga bermanfaat ya!